Sebuah Perjalanan Merengkuh Makna di Balik Safari Ramadan
Terkadang, musuh terbesar dalam hidup bukanlah rintangan yang ada di depan mata, melainkan riuh pikiran buruk yang kita ciptakan sendiri di dalam kepala. Terkadang kita terlalu sering meragukan diri, takut gagal sebelum melangkah, hingga lupa bahwa diluar sana, ada pelukan hangat yang bersedia menyambut kita apa adanya.
Bulan Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ruang waktu yang Tuhan sediakan untuk kita kembali—kembali menguatkan iman dan merajut jalinan kemanusiaan. Atas dasar itulah, langkah ini bermula. Sebuah perjalanan Safari Dakwah digagas, bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban syiar, namun sebagai medium untuk meleburkan diri ke dalam denyut nadi kehidupan masyarakat.
Semuanya bermula dari sebuah pelepasan. Usai pembekalan dan sesi foto bersama yang merekam raut wajah penuh harap, kami melangkah menuju takdir perjalanan masing-masing. Saya dan seorang sahabat yang namanya Naela Rohmaton, ditugaskan ke sebuah tempat yang menanti untuk diceritakan: Desa Ngumpul di Kecamatan Tulakan
Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh namun tetap membuat saya sempat terhuyung oleh mabuk perjalanan. Namun, lelah fisik yang dirasakan di awalnya itu tak sebanding dengan pergolakan batin yang saya rasakan. Sepanjang jalan, kepala saya bising oleh rentetan pertanyaan, “Mampukah aku memikul amanah ini? Bagaimana jika aku melakukan kesalahan yang fatal?” Overthinking itu mengurung saya dalam ketakutan yang pekat.
Hingga akhirnya, roda kendaraan berhenti di halaman rumah Mbak Minaharin. Di detik itulah, segala riuh di kepala saya perlahan luruh. Alih-alih tatapan asing, kami justru disambut oleh senyum yang begitu tulus dan penerimaan kekeluargaan yang begitu hangat. Di titik ini, saya tersadar: ketakutan yang sedari tadi mencekik saya hanyalah ilusi. Safari Dakwah ini ternyata bukan semata tentang saya yang datang untuk menyampaikan ilmu, melainkan tentang saya yang datang untuk belajar—belajar berbaur, saling mengenal, dan menyadari kedalaman makna persaudaraan.
Hari-hari di Desa Ngumbul Kecamatan Tulakan pun berganti menjadi lembaran cerita yang menghangatkan jiwa. Kami melebur dalam rutinitas warga; dari merapatkan shaf sholat berjamaah hingga melantunkan ayat-ayat suci di bawah langit malam Ramadhan. Pagi hari saya lalui dengan menyapu halaman dan membuat kue kering di rumah kerabat Mbak Minaharin, ditemani gelak tawa bersama Ibu RT setempat. Sekat-sekat kecanggungan yang awalnya mendominasi, perlahan menguap berganti menjadi kenyamanan sebuah keluarga baru.
Pada suatu siang di hari Jum’at, di tengah rutinitas yasinan ibu-ibu desa, saya diberi ruang untuk berbagi. Sebuah ceramah singkat tentang esensi Ramadhan meluncur, sekedar mengingatkan kembali tentang pentingnya merengkuh berkah dan memperbanyak jejak kebaikan di bulan yang suci ini.
Setiap Selasa, Kamis, dan Ahad, langkah saya dan Naela berlabuh di TPA. Di TPA Al Ihsan, kami membersamai anak-anak yang matanya selalu berbinar menyambut lembaran Al-Qur'an. Mbak Minaharin dan Bapak Sukatnen dengan telaten membimbing kelompok Iqro’, sementara saya dan Naela diamanahi untuk mendampingi mereka yang telah lancar bertadarus.
Saya tidak ingin mereka hanya sekadar membaca tanpa memahami cara hidup. Maka, saya mencoba memberikan sedikit variasi dengan menyisipkan pelajaran fiqih sederhana—seperti tata cara bersuci. Sebuah harapan kecil yang senantiasa teriring. Semoga kelak ilmu dasar ini akan menjadi penopang langkah mereka, memberikan pemahaman agama yang lebih luas untuk bekal kehidupan sehari-hari.
Namun, waktu selalu memiliki cara yang angkuh untuk menyudahi kebersamaan. Ia memiliki selera humor yang unik yang tanpa terasa, Safari Ramadhan ini telah sampai di penghujung waktu. Kegiatan yasinan terakhir dan meninggalkan kesan ketika bersama ibu-ibu yang tentu saja akan tetap teringat dalam benak, serta tatapan polos anak-anak TPA di hari perpisahan seketika mengiris relung hati.
Ketika tiba saatnya berpamitan, pelukan demi pelukan mendarat di pundak kami. Ibu-ibu itu mendekap kami erat, menitikkan air mata yang jatuh bersama rapalan doa-doa terbaik. Beberapa dari mereka bahkan berbisik haru, mengatakan bahwa kami sudah dianggap seperti anak kandung sendiri.
Mendengar itu, dada saya sesak oleh keharuan. Di dalam hati, saya bertanya pelan, menanyakan kepada diri sendiri, “Kebaikan apa yang sebenarnya sudah saya berikan hingga mereka membalasnya dengan cinta sebesar ini?” Rasanya, apa yang saya lakukan belumlah seberapa, namun masyarakat memberikan begitu banyak ketulusan dan kasih sayang yang tak terhingga.
Pada akhirnya, mau tidak mau, Safari Ramadhan ini telah usai, namun jejaknya akan abadi. Pengalaman ini menyembuhkan saya dari ketakutan-ketakutan yang pada awalnya mungkin terucap dipikiran, kegiatan yang memaksa saya keluar dari cangkang keraguan, dan mengubah saya menjadi pribadi yang lebih berani. Desa Ngumbul Kecamatan Tulakan mengajarkan saya bahwa kebaikan sekecil apapun, selalu memiliki tempat tersendiri di hati manusia.
Pada akhirnya, dakwah terindah bukanlah yang hanya diucapkan secara lisan, melainkan yang terukir lewat kepedulian dan silaturahmi. Saya amat bersyukur pernah menjadi bagian dari cerita ini. Semoga setiap langkah yang kami tinggalkan di tempat ini bernilai ibadah disisi-Nya, dan kehangatan-kehangatan yang rasanya bak keluarga akan selalu menjadi kenangan manis tempat ingatan saya pulang.
Cerita oleh Anisa Nurul Azizah—disunting oleh: Agung Wibowo
-
penerimaan santri baru 2025-2026
2,213 -
Santri Pondok Pesantren Nahdlatussubban Raih Prestasi dalam Lomba MTQ dalam Pekan Olahraga dan Seni tingkat Madrasah Aliyah (MA) Se-Kabupaten Pacitan
945 -
Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatussubban Sampaikan Ucapan Selamat Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-280
813 -
KH. Luqman dan Gus Hans Gaungkan Gerakan Ayo Mondok demi Memperkuat Pesantren Aman dan Santri Melek Digital
725 -
Safari Ramadan, Menapaki Jejak pengabdian dan Dakwah
642 -
Nasionalisme Santri
616 -
BOLEHKAH MENJAMAK SHALAT KETIKA KARNAVAL
488 -
Indonesia Gelap dan Ramadhan
474
Facebook