Menemukan Terang di Balik Asingnya Pengabdian

author avatar
PP Nahdlatussubban
Mar 19, 2026 1 day ago
hero image

Terkadang, semesta memaksa kita melangkah keluar dari zona nyaman bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menunjukkan arti dari sebuah kepulangan. Kita dihadapkan pada ruang asing, dipaksa berteman dengan sepi dan keraguan, hingga akhirnya waktu menyadarkan kita: di tempat yang namanya tak pernah kita dengar sekalipun, justru di sanalah kepingan kedewasaan kita mulai dibentuk.

Namaku Azpria Martdyana Saputri. Saat ini aku duduk di bangku kelas XII MA, berada di semester akhir yang seharusnya dipenuhi dengan hiruk-pikuk persiapan kelulusan. Namun, pernahkah terbayangkan di benakmu, harus tinggal dan menetap di sebuah wilayah yang bahkan namanya belum pernah mampir di telingamu? Itulah realita yang harus aku hadapi ketika amanah dari pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatussubban memanggil kami untuk melaksanakan Safari Ramadhan.

Tepat pada tanggal 18 Februari 2026, langkah pengabdian itu dimulai. Berbekal untaian nasihat dan ilmu yang telah dititipkan, kami disebar ke berbagai penjuru. Takdir membawaku dan dua sahabatku menjejakkan kaki di tanah Donorojo, tepatnya di pelosok Klepu Krajan. Ada debar yang tak biasa saat kaki ini pertama kali memijak buminya. Ketakutan, kegelisahan, dan rasa asing melebur menjadi satu. Kejutan tak berhenti di situ; sesampainya di kediaman tuan rumah, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa kami harus berbagi tempat pengabdian dengan dua santri laki-laki dari pondok pesantren yang berbeda.

Malam pertama di tanah rantau selalu punya cara untuk menguji ketegaran. Kami menyantap sahur pertama tanpa kehangatan keluarga. Biasanya suasana sahur dipenuhi dengan ramainya rekan-rekan santri yang penuh dengan gurauan—suasana ini agaknya sedikit berbeda dengan sedikit keheningan dan rasa canggung yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. Usai menanti imsak dan merapatkan saf subuh berjamaah, kami mencoba mencairkan rasa canggung dengan merapikan seisi rumah. Namun, semesta seolah ingin menguji mental kami lebih jauh. Sinyal telekomunikasi lenyap tak bersisa yang makin membuat rasa-rasa itu muncul makin bergejolak, serasa kembali ke pesantren dengan segala keterbatasan yang ada. Namun, di tengah rasa putus asa, keberanian kecil muncul untuk meminjam alat komunikasi tuan rumah, sekadar mengirimkan sebaris pesan penenang untuk orang tua di rumah bahwa kami terkendala sinyal.

Memasuki hari kedua, Bapak tuan rumah perlahan membuka gerbang interaksi kami dengan warga dengan mengajak kami ke TPA Fathul Qarib. Di titik ini, rasa insecure dan ketakutan itu kembali terbangun. Meragukan diri sendiri: mampukah aku? Namun, keajaiban selalu hadir bersama ketulusan dan selalu saja dengan kondisi yang tidak terduga. Begitu aku duduk dan mulai mengajar, segala keraguan itu luruh seketika, berganti menjadi kenyamanan.

Tiga hari berselang, penanggung jawab rombongan mengirimkan kartu perdana khusus untuk kami. Hati yang semula gundah gulana karena rindu tak bisa memberi kabar, perlahan mereda. Komunikasi yang kembali tersambung dengan orang tua menerbitkan rasa senang yang luar biasa menyelimuti hati kami.

Hingga tibalah hari Senin, hari di mana mental kami diuji di medan yang lebih menantang. Kami bertiga, ditambah empat santri dari pesantren lain, diberikan mandat untuk mengajar di SMP 3 Donorojo. Pernahkah kalian membayangkan beratnya memikul tanggung jawab seorang guru? Dulu, mungkin kita adalah murid yang terlelap saat guru menjelaskan di depan kelas. Kini, aku harus merasakan sendiri betapa tidak mudahnya menjadi pendidik. Ada rasa insecure yang hebat saat harus berdiri berhadapan dengan murid yang begitu banyak, menyadarkan ku bahwa menjadi guru jauh lebih berat dari yang kita pikirkan.

Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Asing kini berubah menjadi akrab. Kami mulai terbiasa dengan ritme dan kehebohan kehidupan Donorojo. Namun, ujian selalu datang menyapa. Pemadaman listrik massal dipadukan dengan hilangnya sinyal menciptakan ruang hampa yang membuat kami terkadang merasakan “gabut” tak tertolong. Di tengah kebosanan itu, sebuah momen kebersamaan yang langka justru tercipta. Usai sholat dzuhur, kami mulai sibuk di dapur. Hal yang paling tak terduga adalah ketika rekan-rekan mas-mas santri turut turun tangan membantu kami memasak untuk menu berbuka puasa di satu rumah. Sebuah harmoni tercipta di tengah keterbatasan.

Hari demi hari berganti dengan gembira, melesat hingga akhirnya kami tiba di penghujung masa Safari. Ada denyut sedih dan berat yang menyelimuti hati saat menyadari bahwa kami harus berpamitan pulang. Rasanya berat meninggalkan tempat ini, namun langkah tak boleh terhenti karena masih banyak hal yang harus kami selesaikan di tempat asal kami di Nahdlatussubban.

Akhirnya tidak ada kata yang bisa diucapkan selain ucapan paling tulus: “Terima kasih, Donorojo”. Tanahmu telah mendidik ku menjadi jiwa yang lebih sabar, memaksaku belajar ikhlas, hemat, dan banyak hal lainnya.

Semoga ilmu yang kami tinggalkan untuk desa ini, khususnya untuk adik-adik semua, dapat memberikan manfaat. Terima kasih, Donorojo, atas berjuta cerita yang kau berikan. Sampai jumpa di episode selanjutnya, sehat selalu untuk warga Donorojo Klepu Krajan.

Cerita oleh Azpria Martdyana Saputri — disunting oleh : Agung Wibowo