Sejumput cerita—26 Hari yang mengesankan di tanah Donorojo
Pernahkah terlintas di benakmu, menjejakkan kaki di sebuah wilayah yang bahkan namanya tak pernah mampir di telingamu? Tinggal di tengah orang-orang asing, namun anehnya, batinmu merasa senyaman berada di rumah sendiri? Saya pernah berada di titik itu. Menyesap setiap detiknya di sebuah tempat yang mungkin terpelosok dari hiruk-pikuk peta, namun denyut kehidupannya senyaman sebuah kota. Itulah Donorojo, tepatnya di Desa Klepu Krajan. Selama kurang lebih 26 hari berlindung di bawah atap langitnya, segala ekspektasi buruk ku luruh. Di balik dinding rumah yang nyaman ini, aku disambut oleh keramahan yang tulus; oleh sesosok Bapak dan Ibu yang mendekap kami layaknya darah daging mereka sendiri.
Benar seperti yang banyak orang bilang bahwa seringkali, ketakutan terbesar kita lahir dari ketidaktahuan. Kita membangun tembok prasangka terlalu tinggi terhadap tempat yang belum pernah kita singgahi, hanya untuk menyadari bahwa di balik tembok itu, semesta telah menyiapkan sebuah pelukan hangat bernama "rumah" yang baru.
Manusia memang kerap kali dihakimi oleh pikirannya sendiri. Sebelum melangkah, rentetan tanya sering kali mencekik nyali, “Bagaimana jika tempatnya tidak menyenangkan? Bagaimana jika kehadiranku tak diterima?” Prasangka itu menari-nari di kepala hanya karena kita terbiasa mendengar cerita dari lisan orang lain, tanpa pernah berani turun untuk merasakannya secara langsung. Di Donorojo, pepatah “don't judge a book by its cover” menemukan wujud aslinya. Ketakutan itu nyatanya hanyalah ilusi semu yang tak sekelam bayangan.
Keterasingan di hari-hari pertama adalah hal yang lumrah. Namun, waktu selalu memiliki cara yang magis untuk meleburkan perbedaan. Perlahan, kami mulai merangkul tradisi setempat dan terbiasa dengan ritme napas lingkungan sekitar. Langkah adaptasi itu terasa semakin indah ketika takdir mempertemukan kami dengan anak-anak TPA Fathul Qarib. Kepolosan dan sifat mudah bergaul mereka meruntuhkan sekat kecanggungan. Hanya dalam hitungan menit, ikatan pertemanan itu terjalin erat. Dari tangan-tangan kecil merekalah, kami dituntun untuk lebih mengenal relung-relung desa ini.
Cerita manis ini tak berhenti di pelataran TPA. Semesta kembali menyuguhkan ruang pengabdian yang tak kalah berkesan ketika kami berkesempatan membaur bersama siswa-siswi SMP Negeri 3 Donorojo. Mereka adalah jiwa-jiwa muda super aktif dan penuh energi. Waktu lima hari mungkin terdengar amat singkat, namun di rentang waktu yang sempit itu, kami berhasil memadatkan kenangan; belajar bersama, berbagi tawa, hingga melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam syahdunya tadarus.
Menetap di lingkungan yang sebelumnya sama sekali tak kita kenal tentu bukan perkara yang mudah. Namun, masa pengabdian yang nyatanya terasa begitu cepat ini justru memahat kenangan yang teramat hebat. 26 hari di desa yang indah nan asri ini mengajarkan saya satu hal penting: perjalanan ini bukan sekadar tentang datang, singgah, lalu pergi menorehkan nama. Lebih dalam dari itu, ini adalah tentang merendahkan hati untuk memahami tradisi orang lain, serta menghormati segala kebiasaan yang telah mengakar menjadi harmoni di tanah mereka.
Berawal dari sebuah perjumpaan yang berlandaskan ketidaksengajaan, teriring satu bait doa yang tulus: semoga Desa Klepu Krajan akan selalu sama indahnya, dan kehangatan orang-orang di dalamnya tak akan pernah pudar dimakan usia. Terima kasih atas 26 hari yang teramat bermakna ini. Segala kebaikan, penerimaan, dan hal-hal baru yang kalian ajarkan akan selalu kami genggam erat sebagai bekal paling berharga untuk dibawa pulang.
Cerita oleh: Yayang Qumairoh—disunting oleh: Agung Wibowo
-
penerimaan santri baru 2025-2026
2,220 -
Santri Pondok Pesantren Nahdlatussubban Raih Prestasi dalam Lomba MTQ dalam Pekan Olahraga dan Seni tingkat Madrasah Aliyah (MA) Se-Kabupaten Pacitan
950 -
Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatussubban Sampaikan Ucapan Selamat Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-280
819 -
KH. Luqman dan Gus Hans Gaungkan Gerakan Ayo Mondok demi Memperkuat Pesantren Aman dan Santri Melek Digital
734 -
Safari Ramadan, Menapaki Jejak pengabdian dan Dakwah
648 -
Nasionalisme Santri
620 -
BOLEHKAH MENJAMAK SHALAT KETIKA KARNAVAL
494 -
PERBEDAAN AMIL DAN PANITIA ZAKAT
481
Facebook