Tentang Langkah yang Ragu Namun Berujung Betah
Perjalanan sejatinya bukan sekadar tentang seberapa jauh raga berpindah tempat, melainkan tentang bagaimana setiap langkah mampu menyambungkan satu jiwa dengan jiwa lainnya. Ada kalanya, sebuah keberangkatan diawali dengan keraguan yang menyelinap di sela pikiran—tentang bagaimana rasanya menjadi "orang asing" di tanah yang belum pernah terjamah demi menuntaskan amanah di jenjang akhir pendidikan ini.
Dusun Jajar, Desa Ngreco, Kecamatan Tegalombo kini menjadi saksi bisu dari sebuah perjalanan Safari Ramadhan yang penuh makna. Pada mulanya, ada getar ketakutan yang merayap di dada; takut akan kegagalan, takut tak mampu beradaptasi, atau takut kehadirannya tak memberikan arti. Namun, semesta selalu punya cara untuk memeluk keraguan manusia. Ternyata, di balik rimbunnya desa ini, tersimpan keramahan warga yang begitu tulus, persis seperti suasana hangat di kampung halaman sendiri.
Tak butuh waktu lama bagi diri ini untuk merasa luluh. Proses berbaur dengan tetangga sekitar terjadi begitu alami, seolah garis batas antara pendatang dan penduduk setempat seketika pudar. Diterima dengan tangan terbuka layaknya keluarga sendiri adalah bentuk anugerah yang paling disyukuri dalam perjalanan ini.
Amanah pengabdian pun mengalir dengan indahnya. Belum genap sepekan, kesempatan emas hadir untuk berbagi ilmu di ruang-ruang kelas SDN 5 Ngreco. Saat matahari mulai condong ke barat, riuh suara adik-adik kecil di Masjid Al Falah menjadi melodi harian yang mendamaikan saat sesi mengaji dimulai. Tak ketinggalan, setiap hari Senin, kebersamaan semakin erat lewat lantunan Yasin dan Tahlil bersama ibu-ibu warga sekitar. Di setiap sujud dan doa bersama, ada rasa ukhuwah yang semakin mengakar.
Banyak pelajaran yang dipetik, namun kebaikan warga Ngreco adalah yang paling membekas di relung hati. Mengharukan ketika banyak warga yang memperlakukan diri ini bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai anak sendiri. Di titik inilah, rasa betah itu tumbuh begitu kuat hingga memunculkan rasa enggan untuk berpisah.
Sebab pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar pergi ke tempat asing. Kita hanya sedang menjemput bagian dari keluarga kita yang selama ini terpisah oleh jarak. Ngreco telah membuktikan bahwa rumah bukan hanya tempat kita lahir, tapi di mana hati kita merasa diterima tanpa syarat.
Cerita oleh: Navila Anggreiny—disunting oleh: Agung Wibowo
-
penerimaan santri baru 2025-2026
2,220 -
Santri Pondok Pesantren Nahdlatussubban Raih Prestasi dalam Lomba MTQ dalam Pekan Olahraga dan Seni tingkat Madrasah Aliyah (MA) Se-Kabupaten Pacitan
950 -
Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatussubban Sampaikan Ucapan Selamat Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-280
819 -
KH. Luqman dan Gus Hans Gaungkan Gerakan Ayo Mondok demi Memperkuat Pesantren Aman dan Santri Melek Digital
734 -
Safari Ramadan, Menapaki Jejak pengabdian dan Dakwah
648 -
Nasionalisme Santri
621 -
BOLEHKAH MENJAMAK SHALAT KETIKA KARNAVAL
494 -
PERBEDAAN AMIL DAN PANITIA ZAKAT
482
Facebook