Tentang Rasa Takut yang Berubah Jadi Rindu

author avatar
PP Nahdlatussubban
Mar 19, 2026 2 days ago
hero image

Pernah nggak sih kalian tiba-tiba "nyemplung" ke sebuah desa yang asing banget, yang bahkan belum pernah kalian datangi sebelumnya? Jujur, awalnya aku ngerasa takut dan nggak nyaman. Ada perasaan insecure yang membayangi: "Bisa nggak ya aku diterima di sini?" atau "Gimana kalau nanti aku bikin kesalahan dan orang-orang nge-judge kalau anak pondok itu nggak bisa apa-apa?"

Tapi ternyata, semesta memang hobi untuk memberi kejutan. Selamat datang di Tegalombo Ngreco, sebuah desa asri dengan jalanan yang—jujur saja—cukup menantang adrenalin. Tapi di balik medan yang berat itu, ada kehangatan yang luar biasa.

Layaknya orang baru, sering kita dengar kalau orang desa itu kaku atau kuno? Ternyata itu cuma gosip! Pas aku sampai di sini, prasangka itu langsung hilang. Aku beruntung banget dapet tuan rumah yang baiknya nggak main-main, mereka bener-bener nganggap kami layaknya keluarga sendiri.

Momen yang paling bikin aku "deg-degan" adalah pas aku harus mimpin tahlilan. Namanya juga manusia, aku sempet salah baca sedikit. Tapi respon warga? Mereka malah bilang, "Nggak apa-apa, namanya juga masih belajar, yang penting sudah berani maju." Di situ aku sadar, ketulusan mereka jauh lebih besar daripada sekadar menilai kesalahan teknis.

Bagian paling epic sekaligus menguras tenaga adalah saat waktunya mengajar di SDN 5 Ngreco. Buat kalian yang tahu rasanya ngajar anak-anak yang nggak bisa diam sedetik pun, pasti paham! Apalagi sebagai seorang introvert, berada di keramaian dan kegaduhan itu bener-bener nguras energi.

Tapi, ada sisi manisnya. Aku ketemu sama adik-adik TPA yang lucu banget, salah satunya namanya Nadif. Mukanya polos, lucu, dan awalnya susah banget buat deket sama orang. Tapi pas mereka mulai akrab, rasanya nyaman banget. Di hari-hari terakhir, aku sempetin cerita tentang sahabat Nabi yang super kocak, Nu’aiman. Awalnya mereka bingung, tapi pas ceritanya mulai mengalir, tawa mereka pecah. Momen itu yang bikin aku ngerasa 26 hari di sini lewat cepet banget.

Dari yang awalnya canggung, sampai akhirnya bisa rutin ikut tahlilan bareng ibu-ibu setiap Senin siang. Ternyata, Safari Ramadhan ini bukan cuma soal menuntaskan tugas pondok, tapi soal bagaimana rasanya belajar menyesuaikan diri dan berbaur dengan masyarakat yang punya hati seluas samudera.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa perjalanan yang paling bermakna bukanlah seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa dalam kita mampu membuka diri untuk diterima dan menerima. Tegalombo Ngreco bukan sekedar tempat pengabdian, tapi tempat yang mengajarkanku bahwa pelajaran hidup terbaik seringkali kita dapatkan di tempat yang paling tidak kita duga. Terima kasih sudah menjadi rumah, meski hanya sementara.

Cerita oleh: Zaskia Zahrani—disunting oleh: Agung Wibowo