Tentang Roti Lebaran dan Ketulusan yang Tak Terlupakan
Pernah merasa kalau perjalanan paling melelahkan justru membawa kita ke tempat paling tenang? Ada kalanya, aspal yang berkelok dan jalanan yang tak lagi mulus bukan sekadar rintangan, melainkan sebuah ujian kesungguhan sebelum menemukan kehangatan yang sesungguhnya. Begitulah potret awal saat langkah-langkah ini mulai menapaki Desa Tulakan untuk agenda Safari Ramadhan tahun ini. Rasa lelah di sepanjang jalan seketika meluap, berganti dengan decak kagum pada ketulusan warga yang menyambut dengan senyum paling lebar yang pernah ditemui.
Di Desa Tulakan, kehadiran para santri bukan dianggap sebagai tamu asing, melainkan keluarga yang sudah lama dinanti. Dukungan penuh dari masyarakat setempat menciptakan suasana yang begitu nyaman dan membumi. Hari-hari di sana pun tak pernah terasa kosong. Di sela waktu pengabdian, terselip momen berharga mulai dari membimbing adik-adik TPA, hingga obrolan ringan penuh tawa bersama warga selepas ibadah Tarawih yang menghangatkan suasana malam.
Salah satu fragmen paling berkesan adalah ketika jari-jemari ini mulai belajar beradu dengan adonan kue kering untuk persiapan Lebaran. Dari yang awalnya tak mengerti teknik dasar, perlahan diri ini dibimbing untuk memahami setiap prosesnya—mulai dari mengaduk adonan, mencetak dengan rapi, memberi warna, hingga memastikan suhu oven terjaga dengan benar. Sesekali tawa pecah ketika hasil cetakan kue terlihat kurang simetris, namun justru di situlah letak keakraban yang sebenarnya. Pelajaran membuat kue ini menjadi metafora bahwa hal-hal manis dalam hidup seringkali membutuhkan proses yang sabar dan kolaborasi yang tulus.
Nuansa keagamaan di desa ini pun terasa begitu kental dan guyub. Setiap Jumat sore, tradisi Yasinan di rumah warga menjadi saksi bagaimana ukhuwah terjaga dengan erat. Dimulai dengan arisan ibu-ibu yang penuh keceriaan, dilanjutkan dengan lantunan ayat suci yang menyejukkan hati, hingga momen pulang membawa bingkisan sederhana yang maknanya jauh melampaui isinya.
Waktu terasa berlalu begitu cepat ketika hati sudah merasa betah. Perjalanan Safari Ramadhan di Desa Tulakan ini akhirnya mencapai penghujungnya, namun pelajaran yang ditinggalkan akan terus menetap. Ramadhan di sini mengajarkan bahwa hakikat puasa bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang bagaimana mempererat silaturahmi dan berbagi kebahagiaan dengan sesama manusia.
Karena pada akhirnya, perjalanan yang paling bermakna bukanlah seberapa jauh kaki melangkah, melainkan seberapa dalam hati mampu menerima dan memberi arti pada setiap pertemuan. Tulakan bukan sekadar nama di peta, ia adalah rumah bagi setiap kenangan yang tumbuh dalam hangatnya kebersamaan
Cerita oleh: Naela Rohmaton—disunting oleh: Agung Wibowo
-
penerimaan santri baru 2025-2026
2,220 -
Santri Pondok Pesantren Nahdlatussubban Raih Prestasi dalam Lomba MTQ dalam Pekan Olahraga dan Seni tingkat Madrasah Aliyah (MA) Se-Kabupaten Pacitan
950 -
Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatussubban Sampaikan Ucapan Selamat Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-280
819 -
KH. Luqman dan Gus Hans Gaungkan Gerakan Ayo Mondok demi Memperkuat Pesantren Aman dan Santri Melek Digital
734 -
Safari Ramadan, Menapaki Jejak pengabdian dan Dakwah
648 -
Nasionalisme Santri
620 -
BOLEHKAH MENJAMAK SHALAT KETIKA KARNAVAL
494 -
PERBEDAAN AMIL DAN PANITIA ZAKAT
481
Facebook